Dahulukan yang utama

Ada 4 tipe permasalahan dalam hidupmu, ada 4 macam prioritas dalam hidupmu
1. Penting-genting
2. Penting-tidak genting
3. Tidak Penting-genting
4. Tidak penting-tidak genting
Untuk hal-hal genting mungkin tidak akan terulang kesempatan yang sama dalam hidupmu, dan mungkin untuk memperbaikinya dibutuhkan perjuangan dan waktu yang bertahun-tahun atau berhari-hari.
Misalnya ketika aku pulang dari ngelesi jam 9 malam, dengan keletihan yang luar biasa, masih membawa pulang beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan besok,
tiba-tiba ayahku memintaku membantunya mengisi formulir kambium. Aku belum mandi. Aku bahkan belum masuk ke dalam kamar. Yak di situ ada beberapa point yang harus dilihat sebagai permasalahan.
1. Aku letih luar biasa
2. Aku masih membawa pulang pekerjaan
3. Ayahku minta dibantuin mengisi formulir kambium
4. Aku belum mandi dan belum masuk ke dalam kamar
Mari kita tengok tingkat kepentingan dan kegentingannya:
1. Penting - Genting
Mungkin yang terlihat penting dan genting adalah pekerjaan yang kubawa pulang. Tapi aku tidak berpikir begitu, menurutku yang penting dan genting adalah ayahku minta dibantu mengisi formulir kambium. Ada sisa 11 jam dalam malam itu untukku mengerjakan pekerjaanku, tapi aku tidak tahu akankah ada kesempatan bagiku lagi untuk membantu ayahku mengisi formulir dan mendengarkan ayahku.

Aku pikir, jika aku tidak belajar meluangkan waktu untuk ayahku, aku akan kehilangan banyak hal berharga. Aku tidak akan mengenal ayahku, aku tidak akan mengerti siapa dia dan permasalahan apa yang ada dalam hidupnya. Mungkin saat itu ayahku benar-benar membutuhkan aku, dan memang begitu.
2. Penting - Tidak Genting
Ini mungkin baru pekerjaanku. Aku harus menyelesaikannya. Tapi jika aku besok pagi belum menyelesaikan, jika aku sudah mengerjakan dengan segenap daya upayaku, kupikir aku sudah menyelesaikan yang terbaik. Cukuplah.
3. Tidak penting - genting
Aku lelah. Tidak akan mengubah terlalu banyak sih. Tapi aku butuh istirahat.
4. Tidak penting - tidak genting.
Aku belum mandi. Nggak ada yang peduli deh kayaknya kalau aku cuman nggak mandi 1 malam doang.
Yak...itulah kehidupan kita. Kita punya banyak sekali pilihan dalam kehidupan kita. Beberapa di antaranya nggak akan terulang lagi, dan beberapa diantaranya jika kita tidak bisa melihat hal berharga yang ada di dalamnya, kita akan kehilangannya, dan di saat kita kehilangan, untuk memperolehnya lagi akan dibutuhkan begitu banyak harga yang harus dibayar, waktu yang harus diluangkan.

                            

Clean start

Aku nggak tahu, mana yang lebih baik, menanyakan semuanya (mengkonfrontasinya langsung), atau aku diam dalam semua pertanyaan di kepalaku...yang kalau aku nggak nanya, aku nggak bisa ngehilangin semua dari benakku...nggak bisa ngehapus bayangnya dari hatiku...nggak bisa...nggak bisa jadi diriku sendiri aja...
'Are we friend? I don't think so. Why? Just look at u'rself'
bunyi SMSku tadi siang...kenapa? Aku pikir aku memang bukan temannya lagi...Aku nggak pernah merasa diperlakukan sebagai teman...dan terpikir olehku, mungkin akan lebih baik baginya jika aku menghilang dari kehidupannya, biarkan dia dengan dirinya...dan temui aku lagi jika dia sudah siap menyandang kata 'teman', karena teman berarti berbagi, teman berarti peduli...
Aku memutuskan untuk jadi diriku sendiri, yang sedari dulu kalau temanku mulai menghindar dari kehidupanku, aku akan datang dan menanyakan langsung kepadanya, bukan memendam seribu tanya di hati atau bersedih dan menangis2inya...aku yang akan tertawa saat ingin tertawa, menangis saat aku ingin menangis, bukan menangis di balik tawa dan tertawa di dalam tangis.
Dan aku mulai menata ulang diriku, dengan atau tanpa keberadaannya, karena inilah hidupku, inilah aku. Aku sudah cukup bersabar dengan sikapnya, aku nggak akan bersikap lemah dan takut kehilangan dirinya, memangnya dia siapa. Jadi aku berdiri dengan kakiku, dan menjadi diriku.
Yah...semuanya dimulai dari sekarang...

Doaku pagi ini...

TUHAN, aku berdoa...untuk orang yang saat ini selalu terbersit di hatiku...
Aku berdoa untuk perlindunganMU baginya...
jagalah dia sepanjang hari ini, seperti ENGKAU menjagaku...
temanilah dia sepanjang hari ini, seperti ENGKAU menemaniku...
selalulah ada untuknya, dan jangan biarkan dia merasa kesepian...
Jika dia letih, jadilah tempat bersandar baginya...
Jika dia sedih, jadilah tempat penghiburannya...
Aku tidak bisa berada di sampingnya...jadi biarkanlah ENGKAU selalu menemaninya...
...TUHAN...ENGKAU yang paling tahu seberapa besar cintaku untuknya...
...dan ENGKAUpun yang paling tahu perasaan dia padaku...
Saat ini betapa aku terluka...bukan karena dia tak membalas cintaku...
Tapi karena...aku kehilangan dia sebagai temanku...
hingga terkadang terbersit di hatiku...seandainya tidak pernah ada perasaan ini...seandainya tidak pernah ada HTS kami...mungkin kami bisa menjadi sepasang sahabat...sahabat yang baik dan dekat...
Tapi kini, bahkan untuk menjadi teman pun tampaknya aku tidak lagi berhak di matanya...apakah 'mencintainya' merupakan sebuah kesalahan tak termaafkan baginya???
Sekarang, di saat aku bukan lagi seorang teman baginya, aku hanya punya 1 hal yang bisa kuberikan untuknya...doa...
YESUS, jagalah dia...berikanlah yang terbaik baginya...dan temanilah dia...karena hanya doa ini yang bisa kuberikan untuknya...

Aku ini hanya mahluk lemah

Dan kusadari...berulangkali aku menyadari...aku ini hanya mahluk lemah
aku seringkali berlindung pada kata "aku kuat, aku tegar, aku bisa", padahal nggak
dan sekali ini Tuhan membuatku menyadari bahwa aku lemah...dan benar-benar lemah
Dia membuatku terpojok dalam setiap kelemahanku, hingga aku tidak bisa lagi melarikan diri dan berpura-pura kuat...
Dia membawaku ke hadapan cermin, menarik lepas semua topengku, dan membuatku melihat diriku sendiri, siapa aku...
Dia menarik lepas semua dindingku, dan menghadapkan aku pada kenyataan...
Tidak ada tempat bersembunyi, tak ada tempat berlindung, yang ada hanya dunia, aku dan Dia...Dia satu-satunya tempatku berlindung...
Dan Dia membuatku (dengan paksa) meninggalkan zona nyamanku, dan membuat langkah-langkah kecil, kecil sekali, untuk kesekian kalinya, sekali lagi menghadapi dunia dengan segala ketidakpastiannya...
Sekarang aku masih punya 1 topeng, 1 dinding, 1 pengaman, dan Tuhan memberiku pilihan, aku melepasnya, atau Dia yang akan melepaskannya dariku...
Dan aku tahu, aku sudah sangat tahu, apa yang seharusnya kupilih dan kulakukan...tapi aku justru sedang mencoba melakukan sebaliknya, memegang erat-erat, menggenggam erat-erat bayangan yang kupunya...

Mau nggak kalau kita kembali pacaran?

"Ta, kalau aku minta kita kembali menjadi pacar kamu mau nggak?", malam itu orang yang pernah kucintai menanyakan hal itu kepadaku.
Aku masih menyayanginya, aku tahu aku bisa bertahan sejauh ini sedikit banyak karena keberadaannya. Di saat aku sedih, aku tahu dia bisa membuatku tersenyum, di saat aku tertawa dia tertawa bersamaku. Aku tahu aku bahagia di sampingnya. Dia adalah seseorang yang aku benar-benar bisa jujur apa adanya. Aku bisa menangis di depan dia, aku bisa memaki di depan dia. Dia tahu semua masa laluku dan tak pernah berkeberatan dengan semua itu. Aku menyayanginya, sebagai bagian dari hidupku, layaknya kakak, layaknya ayah, layaknya sahabat. Aku pun tahu jika dia berlalu dari padaku aku akan sangat terluka, kesepian lebih dari yang bisa kubayangkan.
Tapi bagaimana dengan cintaku? Aku masih mencintai mr. TM. Dan seperti apapun aku mencoba mengusir bayangnya dari hatiku, apapun yang kulakukan, tidak sedetik pun mr. TM berlalu dari hatiku. Seburuk apapun dia memperlakukanku, selama apapun aku tidak mendengar kabar tentangnya, sedingin apapun sikapnya padaku, aku masih mencintainya. Dan walaupun aku dibalut dengan kehangatan cinta orang yang pernah kucintai, ataupun orang lain, hatiku hanya merindukan mr. TM.
Hatiku terluka ketika aku mencoba mematikan cintaku untuk mr. TM dan mencoba mencintai kembali orang yang pernah kucintai. Dan ketika kukatakan itu pada orang yang pernah kucintai, dia bilang "Selama kamu bahagia, aku bahagia". Jadi aku bertanya pada diriku sendiri, 'Apakah kebahagiaanku?'
Aku masih punya waktu 3 bulan lebih untuk berdiam dan merenungkan apa yang menjadi kebahagiaanku. Aku nggak bisa memutuskan ini dan itu dengan cepat, aku takut salah melangkah dan sekali lagi harus melukai begitu banyak orang.

Sudah Yakinkah aku?

"Siapkah kamu menikah terlambat?" sore itu percakapanku dan Bu Tiwi membuatku banyak berpikir ulang tentang kehidupanku.
Aku berencana kuliah lagi tahun depan, jika aku benar-benar kuliah dan aku menyelesaikan kuliahku dengan cepat, paling cepat aku akan selesai empat tahun lagi. Terkadang saat aku mengingat lagi umurku, hampir 24, tahun depan akan menjadi hampir 25, ketika aku menyelesaikan kuliahku mungkin hampir 28 atau malah sudah 28, lalu bekerja. Aku tahu, wanita dengan usia seperti itu, sebuah perusahaan akan berpikir jauh untuk bisa menerimaku bekerja.
Belum jika aku berkomitmen untuk bekerja, konsentrasiku teralihkan pada pekerjaan, otomatis aku akan menomorsekiankan masalah pencarian pasangan hidup, dan jelas soal pencarian pasangan hidup dan soal kuliah ga bisa sejalan, karena aku 24 teman-temanku mungkin 19-20tahun. Yupz, seperti itulah.
Jadi jalan yang harus kupikir ternyata cukup banyak, dan cukup jauh, dan cukup berat, tidak hanya sekedar pencarian biaya, tapi hari depanku begitu tak jelas dan jauh.
Tapi tak apa. Ini saatnya aku, yang terlalu memikirkan dan berencana jauh ke depan, meletakkan seluruh kehidupanku kepada Yesus. Tidak seperti sebelum-sebelumnya, pura-pura sudah menyerahkan, ternyata masih menggenggam erat-erat kehidupanku. Yang aku tahu pasti dan yang berada dalam kendaliku saat ini adalah hari ini. Hari ini aku masih bisa berjalan, masih bisa melangkah, masih bisa berusaha. Masalah besok, aku akan berserah dan percaya.

Aku sedih

"Ta, mulai besok aku nggak usah dikirimi SMS ayat lagi ya? Sebaiknya kamu SMSin aja ke temanmu yang lain, aku yakin banyak yang lebih membutuhkan", aku terhenyak membaca SMS dari seorang temanku satu jam yang lalu.
Aku sudah melakukan kesalahan yang sangat besar. Besar banget, sampai aku seperti orang bingung dan hilang sepanjang sisa malam hari kemarin. Hingga aku ingin kabur dan nggak ingin mengakui bahwa kesalahan itu sudah terjadi. Aku menyesal sudah memaksanya menemui mantan pacarnya, aku nggak pernah menyangka kalau mantan pacarnya ternyata bersikap seperti itu. Dan aku merasa konyol dan bodoh.

Aku pulang

Aku membutuhkan seseorang untuk berada di sisiku
Setiap kali aku mengingat dirinya, nggak bisa nggak aku teringat kata-kata mbak Dina, "Kamu punya keluarga, Gita punya siapa?". Lebih dari segala hal kata-kata itu menghancurkanku, dan aku dibuat menangis, merasa begitu sesak. Aku selalu sadar aku sendirian, tidak perlu dibuat lebih sadar lagi.
Kepergiannya membuat diriku kehilangan begitu banyak hal. Jarak yang terbentang di antara kami begitu jauh, belum jarak yang terbentang di antara hati kami, belum perbedaan waktu dan semua kesibukan kami. Dan ternyata tanpa dia, aku benar-benar merasa sendirian.
Setiap aku pulang aku hanya menemukan Steven, Vie, Tracy, Reeve, Alfredo, dkk. Dan aku menemukan aku semakin dihempaskan dalam kata-kata mbak Dina tersebut. Walau kadang aku sadar, akulah yang mengurung diriku sendiri. Membawa diriku di tengah-tengah kesendirianku. Tapi inilah tempat ternyamanku. Aku tidak pernah nyaman dengan keberadaan orang-orang di sekitarku.
Sahabatku pernah berkata kepadaku, dia merasa tidak perlu menyembunyikan apa-apa dariku, karena aku pun seperti itu. Aku hanya tersenyum. Luka yang kubiarkan terlihat adalah luka yang telah tersembuhkan. Luka di hatiku, yang lebih dalam, kututup rapat2.
Tapi aku tahu, dalam kesendirian ini, aku justru saat pulang ke rumah, aku bisa berkata 'aku pulang'. Inilah rumahku, duniaku.

Maafkan Aku

Aku begitu rapuh saat ini...
Berdiri dengan kedua kaki yang terluka
...tak mampu melangkah...
terlebih melangkah di jalan yang gelap dan tak rata
Melihat cahaya yang menyelimutiku dengan setianya
Kukira cahaya ini bisa menerangi jalanku...
...kukira cahaya yang begitu lembut sekaligus terang ini bisa menenangkanku...
Tapi kegelapanku begitu kelam...menyerap setiap cahaya yang ada...
Masih terasa luka di kakiku...
Dan aku begitu takut...takut dengan kesendirianku...
Melihat tangan yang terulur...menawarkan kehangatan cintanya
Kukira tangan ini bisa menuntunku...
...kukira tangan ini bisa membantuku melangkah walau tertatih-tatih dalam kegelapan...
Tapi bahkan untuk menggapai tangan itu aku tak mampu...
Tak ada yang tersisa di diriku...
cahaya...kekuatan...cinta...ketegaran...
semuanya terhancurkan dengan kepergiannya...
dan walau kau dengan setia menemaniku...
tak mampu lagi kuberikan diriku yang terindah...
karena dia pergi dengan membawa bagian terbesar dari kehidupanku...

Surat Untuk Sahabatku Yang Tak Mampu Kusampaikan

Maafkan Keegoisanku...
Maafkan aku menyakiti hatimu...
Di saat ini, saat kita tak lagi bisa tertawa bersama sebebas dulu...
Di saat akan ada jarak 60 km membentang di antara kita...
Aku ingin mengatakan kejujuran hatiku...
Maafkan aku menyakiti hatimu di SMS terakhir kita sebagai sahabat...
Aku terlalu lelah menghadapi tekanan...dan aku tak mau menghadapi tekanan darimu
Hingga aku mengatakan dan mengSMS sesuatu yang aku tau pasti menghancurkan hatimu...
Yang aku ingin kau tau...tidak semuanya benar seperti SMS itu
memang benar aku tak mencintaimu...dan aku tak bisa mencintaimu
Tapi aku selalu menikmati setiap saat yang kita miliki...
Aku senang memiliki saat-saat bersamamu...
semuanya itu adalah bagian dari hartaku, yang akan selalu kukenang...
Setiap saat yang kita miliki, ya hanya yang kita miliki, bentuk ketulusan dari hatiku...
Bukan bentuk pelarian ataupun yang ingin aku miliki dengan orang lain...
Kenangan yang kita miliki, ya memang milik kita...hanya kita...
Meskipun begitu...kenangan tetaplah kenangan...hanya untuk masa lalu, bukan masa kini...
Aku hanya ingin kau melihat diriku sebagai diriku yang hari ini...
Jangan memintaku kembali ke masa lalu...karena inilah aku...
Kini...walaupun kita berpisah...aku tau aku tak akan melupakanmu
Karena buatku kau tetap sahabatku...

Perasaanku sejujurnya nih

Berikut ini kutipan dari forwardan e-mail temanku yang aku tambahin embel-embel di sana sini

Kalau kamu nanya berapa kali kamu datang ke pikiranku, jujur aja, cuma sekali. abisnya, ga pergi2 sih!

Ya, kamu nggak pernah pergi dari pikiranku, bahkan di tengah stressing dan kesibukanku, aku selalu terpikir akan dirimu, 'sudahkah kamu makan?', 'sibuk jugakah kamu?', dsb

Sempet bingung jg, kok aku bisa senyum sendiri. Baru nyadar, aku lagi mikirin kamu.

Kadang kalau teringat semua kenangan tentang kita aku suka tersenyum sendiri. Kenangan tentangmu selalu membuat hatiku tenang.

Kalau suatu saat kamu hancurkan hatiku… akan kucintai kamu dengan kepingannya yang tersisa.

Kamu sudah hancurkan hatiku, tapi aku masih mencintaimu dengan hati yang sama dengan yang pernah kau hancurkan. Karena walaupun hati ini harus menjadi serpihan, hati ini selalu mencintaimu.

Berusaha melupakanmu, sama sulitnya dengan mengingat seseorang yang tak pernah kukenal.

Jangan minta aku melupakanmu, ataupun berhenti mencintaimu, karena itu hal yang hampir mustahil bagiku.

Aku pernah jatuhkan setetes air mata di samudra Hindia. Di hari aku bisa menemukannya lagi, itulah waktunya aku berhenti mencintaimu.

Ya, berhenti mencintaimu itu merupakan suatu mukjizat.

Ga usah janjiin bintang dan bulan untuk aku, cukup janjiin kamu bakal selalu bersamaku di bawah cahayanya.

Kalau kamu nanya apa yang paling kuinginkan di dalam hidupku, aku ingin dirimu selalu ada di sampingku.

Kalau kamu nanya mana yg lebih penting buat aku: hidupku atau hidupmu, aku bakal jawab hidupku. Eits, jangan marah dulu, karena kamulah hidupku.

Tanpa kamu memang aku masih bisa hidup, tapi hidup tanpa kehidupan, karena hatiku mati bersama kepergianmu.

Pertama ketemu, aku takut ngomong sama kamu. Pertama ngomong sama kamu, aku takut kalau nanti suka sama kamu. Udah suka, aku makin takut kalau jatuh cinta. Setelah sekarang cinta sama kamu, aku jadi bener2 takut kehilangan kamu. Kamu emang menakutkan!

Ya, kamu memang menakutkan banget.

Ketika hidup memberiku seratus alasan untuk menangis, kau datang membawa seribu alasan untuk tersenyum.

Sahabatku pernah berkata di saat aku sedih, obatnya hanya satu : kamu. Keberadaanmu selalu membuat hatiku tenang, dan saat seberat apapun, sepahit apapun kalau ada kamu di sampingku aku tahu semua akan baik-baik saja, dan hatiku menjadi tenang.

Things That Like From You

  • Saat kamu mengiyakan pas aku bilang “aku kan manis/cantik/imut”, karena kenyataannya memang begitu.

  • Saat kamu traktir aku makan di mie Bandung Kridosono.
  • Saat kamu mau nemenin aku makan siang setiap hari Rabu

  • Saat kamu mau nemenin aku ke taman pintar dan ke taman sari, padahal pas itu kamu lagi pusing
  • Saat kamu gandeng tanganku ketika kita jalan-jalan ke taman pintar dan taman sari
  • Saat kamu mau nganter-nganterin aku ke Gramedia
  • Saat kamu pijetin tanganku yang mungil ini
  • Saat kamu mau tukeran kado natal

  • Saat kamu menyimpan Tazmanian Devil di kamarmu dan memajangnya di mejamu

  •  Saat kamu mau pakai jam tangan yang aku kasih

  • Saat kamu mau pinjemin aku jaketmu buat nutupin punggungku pas AMT

  • Saat kamu mau bela-belain jemput aku pas acara EQM padahal kalau kamu berangkat langsung pasti lebih cepat

  • Saat kamu mau nganterin aku ke tempat Sweety

  • Saat kamu mau ngabisin makananku yang ndak habis karena aku kan makannya sedikit

  • Saat kamu beliin aku es krim di mirota

  • Saat kamu nemenin aku makan es krim rujak di dekat Ringroad utara

  •  Saat kamu beliin aku es krim rujak

  •  Saat kamu mau jemput aku di rumah, nemenin makan di dekat tempatnya Yosua ardi habis itu ke tempatnya Kerti, padahal kamu lagi capek habis nukang

  • Saat kamu biarkan aku menggandeng lenganmu

  •  Saat kamu biarkan aku memelukmu dan bergelayutan manja sama kamu

  •  Saat kamu mau menjawab pertanyaan-pertanyaan ‘want to know’ku seperti “mau ke mana sih?”, “sama siapa?” apa adanya

  •  Saat kamu pegang tanganku

  •  Saat kamu mau baca blogsku

  •  Saat kamu mau kasih Testimonial di FSku

  •  Saat kamu mau ngisi tes konyol yang aku pasang di FSku

  • Saat kamu mau nanggepin curhatanku

  •  Saat kamu mau nganter jemput aku pas TWS

  • Saat kamu bilang kalau ada yang nanya tentang fotoku di dompetmu kamu akan bilang “Someone so special deep in my heart”
  •  Saat kamu mau nemenin aku ke alun-alun lihat sekaten

  • Saat kamu mau nemenin aku naik komidi putar di sekaten padahal kamu nggak suka

  • Saat kamu pakai kaos pemberianku

  • Saat kamu nggak malu kita pakai kaos kembar, malah keliatannya bangga

  • Saat kamu peluk aku

  •  Saat kamu mau ndengerin aku ngobrol nggak jelas sampai berjam-jam

  • Saat kamu bilang padaku, “yang penting kamu seneng”

  • Saat kamu keliatan bête waktu aku terlalu dekat sama Kerti

  •  Saat kamu bilang padaku “Kalau kamu senang aku ikut senang, kalau kamu sedih aku ikut sedih, kalau kamu sakit aku ikut sakit, kalau kamu marah,ya aku diam aja”

  • Saat kamu SMS aku “Selamat tidur” di hari Minggu

  •  Saat kamu mau buang pulsa buat balas SMSku

  • Saat kamu mau beliin aku pulsa

  • Saat kamu nemenin aku belanja buat bapak padahal kamu mau nyari celana jean

  • Saat kamu mau nemenin aku nyari anting

  • Saat kamu rangkul aku sambil mijetin kepalaku, yang indah ini, di ruang tamuku

  •  Saat kamu menjaga perasaanku yang kadang cemburuan ini

  •  Saat kamu mau nganterin aku nagih, padahal nggak ada urusannya sama kamu

  • Saat kamu nengokin aku di rumahku pas aku sakit

  • Saat kamu bilang kalau saat-saat yang kita miliki membuatmu merasa nyaman

  • Saat kamu mau nemenin aku ke gereja

  •  Saat kamu mau nemenin aku panas-panasan masukin lowongan ke gereja-gereja

  •  Saat kamu mau nemenin aku makan di Tamsis

  •  Saat kamu nemenin aku nyebar flyer habis itu kita minum es jus n makan siomay

  •  Saat kamu mau nemenin aku maksiber ma Kerti n Noni

  •  Saat kamu biarkan aku memanggilmu bukan dengan Gun, Mas Gun, tapi satu kata Mas’

  • Saat kamu mau nyimpen fotoku di dompetmu

  • Saat kamu kasih aku fotomu

  •  Saat kamu malu banget kalau ada orang godain kamu tentang aku

  • Saat kamu mau nemenin aku nyari celana jeans

  • Saat kamu nemenin aku minum wedang ronde

  • Saat kamu nggak risih untuk makan pakai sendokku n minum pakai sedotanku

  • Saat kamu mau makan sepiring denganku n minum segelas denganku

  • Saat kamu menyandarkan kepalamu di pundakku

  • Saat kamu cerita dengan wajah berseri-seri kalau mamamu bilang  aku manis

  • Saat kamu mengelus dan mencium rambutku

  • Saat kamu memandang mataku dengan pandangan yang lembut sampai aku salting trus pengen ngumpet di bawah kolong meja

  •  Saat kamu biarin aku bongkar-bongkar hpmu

  • Saat kamu nemenin aku pas H-1 ultahmu

  • Saat kamu mau nganterin aku njagong sampai ke Magelang

  • Saat kamu menghapus air mata dari wajahku yang imut nan manis ini

  • Saat kamu cerita mimpi-mimpimu ke aku

  • Saat kamu cerita kalau mimpimu tercapai ke aku

  •  Saat kamu memandangku dan bertanya “kenapa?” karena kamu lihat
    wajahku yang manis ini murung

  • Saat kamu bilang kepadaku “nggak tau nih aku kalau sama kamu kok jadi aneh kayak gini” 

  • Saat kamu mau panggil aku dengan panggilan “Ta”

  • Saat kamu salting pas les bahasa Inggris karena disuruh conversation ma aku

  • Saat kamu bilang “aduh”, ketika aku cerita kalau aku punya perjanjian konyol sama Ardi tentang orang yang kuajak dinner di hari ulang tahunku adalah orang yang pertama kali ngucapin met ultah ma aku

  • Saat kamu bilang “mbok jangan seumur hidup, seumur jagung aja”, pas aku bilang “aku nggak akan gandeng kamu lagi seumur hidup”

  • Saat kamu pegang-pegang perutku yang ndut ini

  • Saat kamu biarkan aku pegang-pegang perutmu yang juga nggak kalah ndut

  • Saat kamu biarkan aku menyimpan fotomu di dompetku

  • Saat kamu nggak marah padahal aku udah manja kelewat batas dan egois

  • Saat-saat kamu mau nganter-nganterin aku

  • Saat kamu bisa menganggapku sahabatmu

  • Saat kamu menerimaku apa adanya

  • Saat…Saat-saat yang kita miliki bersama…mungkin nggak semuanya indah…tapi semua itu adalah harta berhargaku…dan semua itu membuatku makin mengenalmu dan menyayangimu…

     

     

    Mungkin saat-saat yang kita miliki belum begitu banyak…

     

    Tapi saat-saat yang kita miliki sudah cukup untuk membuatku menyayangimu…

     

    Dan aku berharap aku diizinkan untuk memiliki lebih banyak lagi saat-saat bersamamu…

     

    Karena aku menyayangimu


     

     

     

 

Fantasy Star

Sukakah kau memandang bintang di langit?

Aku suka memandang bintang di langit…

Pernahkah kau memandang 1 bintang di langit

dan kau merasa bintang itu adalah bintang terindah dari semuanya

Aku sering melakukannya

Bintangku…Fantasy Starku…

Bintang yang memperlihatkan padaku impian

Dan bukan hanya impian itu…

Bintang yang memperlihatkan padaku

Kekuatan untuk menggapai impianku

Bahwa aku bisa berjuang

Bahwa aku bisa memfokuskan semua yang ada padaku

…untuk meraih impianku

Dan…dirimulah Fantasy Starku

 

Berbicara tentang fantasy Star…

Ada seribu bintang di langit, tapi aku tau pasti bintang mana yang bersinar paling terang. Dulu aku tak pernah merasa aku cukup kuat untuk meraih impian-impianku. Aku bersikap pasif dan berharap semua impianku hadir sendiri dalam kehidupanku. Aku menjadikan impianku sekedar mimpi. Aku melupakan bahwa impian tak sama dengan mimpi. Mimpi hadir begitu saja dalam tidur kita, memenuhi jiwa kita dengan hasrat dan keinginan, namun tak pernah ada yang kita lakukan untuk menggapainya. Impian, sesuatu yang kita perjuangkan. Dan kamu memperlihatkan padaku impian itu. Kamu nggak ngapa-ngapain sih. Kamu nggak mendukungku, nggak berbuat apapun, selain mungkin terkadang menolakku. Tapi mencintaimu membuatku sadar akan diriku yang berusaha. Membuatku mengerti bahwa berusaha itu sangat membahagiakan.

Mungkin suatu saat aku akan menyerah dan membiarkan impianku harus hanya menjadi mimpi, karena memang tidak ada lagi yang bisa kulakukan kepada impianku ini. Tapi aku tidak akan menyesalinya. Karena aku telah berjuang, aku tidak menyerah, dan aku telah melakukan yang terbaik yang kubisa. Ternyata berjuang itu menyenangkan. Membahagiakan. Aku menikmati saat-saat aku berjuang, dan aku mencintai diriku yang berjuang.

Di saat-saat aku berjuang untuk meraih hatimu, ternyata aku melihat sisi diriku yang selama ini tak kusadari. Ternyata aku cukup kuat, ternyata aku memiliki energy sebesar ini dalam diriku. Dan aku bersyukur untuk semuanya.

Pak Eko pernah berkata, ‘raihlah mimpimu, jangan menyerah’. Ditolak satu kali tembak dua kali, ditolak dua kali, tembak tiga kali, selama kamu belum memiliki seseorang yang menyentuh hatimu, kupikir aku masih berhak berusaha untuk menyentuh hatimu. Aku ingin berjuang meraih impianku yang lain seperti aku berjuang untuk meraih hatimu.

Dengan kaki yang menapak ke tanah, dengan dukungan dari orang-orang terkasih, dengan tujuan yang jelas ke depan

kan

kuraih impianku, seperti aku berusaha meraih my Fantasy Star…yang adalah dirimu.

Kau dan Aku

Bukan tidak boleh kau berkata cinta
Bukan aku tidak mau menghadapi perasaanmu
Sementara aku tidak mencintaimu
Aku hanya tahu,
Mencintaiku berarti menaiki kapal yang pasti tenggelam
Karena aku tidak mencintaimu
Bukan cintamu yang melukaiku
tapi melihatmu yang terluka itu yang melukaiku

Kau mencintaiku, sementara aku mencintainya
Kita tahu bahwa kerumitan ini baru akan terputus jika dia dan aku memiliki cinta yang baru
Kau dan aku tau...cinta tak bisa dihentikan
Kalau harus berdarah, biarlah berdarah
Kalau harus sekarat, biarlah sekarat
Karena cinta tidak bisa dihentikan
Walau hati ini berdarah-darah
Walau hati ini hampir tak kuat menanggungnya
Cinta memang perasaan yang egois
Tapi kau dan aku pun tau...
hanya cinta ini yang kita miliki
Walau bukan cinta untuk kau dan aku...
tapi inilah semua cinta yang kita miliki

Kalau harus terbakar, terbakarlah hingga habis
Kalau harus membeku, membekulah hingga tak mampu dicairkan
yang aku dan kau tau cinta tak mampu setengah-setengah
dan kalau kau mencintaiku, aku hanya bisa berkata cintailah aku, kejarlah aku, kalau kau tidak bisa setengah-setengah, ya sudah persembahkanlah cintamu sepenuhnya kepadaku
dan karena aku mencintainya, kau pun hanya bisa berkata cintailah dia, kejarlah dia, persembahkanlah cinta sepenuhnya kepadanya
Kau dan aku tau...cinta adalah cinta
persahabatan adalah persahabatan
kau mencintaiku dan aku mencintai dia
kau sahabatku aku sahabatmu
dan aku mendukungmu
kau mendukungku
serumit itulah kau dan aku

Unbreakable heart

'How To Have Unbreakable Heart'

Tema yang sedang kupikirkan untuk tulisan tugasku di kelas penulisan
Unbreakable heart, hati yang tak dapat dipatahkan
bukan berarti hati yang tak dapat terluka, tak dapat disakiti
mustahil memiliki hati yang tak pernah merasakan hal-hal seperti itu
Unbreakable heart, hati yang tak terpatahkan
berarti hati yang walau terluka berani menghadapi luka itu
walau disakiti, tidak menyimpan setiap luka dan rasa sakit
Unbreakable heart...itulah hatiku...

warna-warnaku

Seperti apakah aku di matamu...
Jika kau harus melukis gambar tentang diriku, akan kau beri warna apakah aku?

Seseorang bilang aku seperti warna oranye
begitu terang, membuatnya tak bisa melihat warna yang lain

Sesorang bilang aku seperti warna abu-abu
begitu misterius, tak dapat dimengerti

Seseorang bilang aku adalah warna merah
berani, mencolok, tegar

Seseorang bilang aku seperti warna biru
menarik, tidak membosankan

Dan seseorang bilang aku adalah warna putih
Putih adalah gabungan dari setiap warna yang ada di sekeliling kita
Setiap warna ada...
Tapi tidak dengan sembarang cara kau mampu mencampur semua warna menjadi putih
Jika kau melakukannya secara sembarangan kau akan menemukan warna cokelat keunguan yang begitu suram
Kau harus memutarnya dengan kecepatan tinggi
Putih adalah gabungan semua warna
namun setiap warna tetap memiliki karakternya

Putih adalah warna yang netral

Warna yang sesuai dengan setiap warna

Tanpa perlu menjadi warna yang lain

Itulah jawaban yang sangat kuharapkan
seseorang yang mampu melihatku dari segala sudut pandang
membuatku tahu betapa indahnya diriku di hatinya
bahwa diriku selalu ada...dalam setiap warna

Jangan Merasa Mengenalku

Jangan menilai diriku dari persepsimu
Kurang apa aku menghadapimu
Kamu mau marah-marah seperti apa...apa aku berlari
Kau merasa mengenalku hanya dari SMS-SMS ku
hanya dari cermin duniamu saja

Aku mungkin memang egois...
tapi tidak bolehkah aku mengejar mimpiku?
tidak bolehkah aku punya waktu untuk kehidupanku yang lain?
tidak bolehkah aku punya waktu untuk diriku sendiri?
kalau itu tidak boleh...
setidaknya tidak bolehkah aku merasa lelah?
sehingga aku ingin membaringkan kepalaku sejenak...
selama ini kalau kau meminta itu selalu kuberikan...
tapi apa aku yang tidak boleh...

Maaf ke 1003 nih ceritanya

Selamat ulang tahun "..."

Aku tau itu sangat tidak spesial dan sangat menyakitkan
Aku pun tau kalau orang yang sangat aku sayangi mengatakan selamat ulang tahun untukku so simple n so easy seolah-olah buat dia aku hanya angin lalu yang nggak penting pasti sakit banget.
Aku tau...
Sebenarnya hari itu...
Aku nggak tau aku egois atau nggak...
Tapi membatalkan janjiku denganmu demi mimpiku...mimpi yang aku kejar jauh sebelum aku memimpikan Mr. TM...aku tau aku berbuat jahat padamu...tapi aku pun tidak tahu jalan lain yang harus kutempuh...Aku nggak ingin sekali lagi mematikan atau menunda mimpiku...
Aku jahat memang mengucapkan hal seistimewa itu sesimple itu...
tapi aku nggak tahu mana yang lebih baik?
mengSMSmu berpura-pura lupa ulang tahunmu...dan mengatakan isi SMS itu tanpa embel2 "selamat ulang tahun"...
Atau mendahulukan SMS selamat ulang tahun yang mendramatisir, baru menyusulkan SMS keperluanku...semuanya terasa munafik bagiku...
Aku sebenarnya memang hari itu tidak mengSMS secara khusus SMS2 met ultah dsb, karena aku tahu kita akan bertemu di sore harinya...
Tapi kalau itu menyakiti hatimu...maaf deh yang ke 1003

Mencintai & Dicintai

"Aku masih mencintainya karena aku tidak tahu bagaimana cara menghentikan cinta", kataku pada sahabatku.
                "Aku masih mencintaimu karena aku juga tidak tahu cara menghentikan                         cinta", kata sahabatku padaku.

Okay, aku mencintai dan aku dicintai. Aku mencintai seseorang dan aku dicintai seseorang yang lain. Rasanya begitu lucu.
Tapi pasti tidak pernah terbayang kan kalau kamu akan dicurhati tentang cinta oleh orang yang mencintaimu? Aku mengalaminya lho. Sahabatku mencintaiku di saat aku mencintai orang lain. Sahabatku mendukung aku meraih cintaku, dan aku mendukung sahabatku meraih cintanya. Yang ada hubungan aneh yang serba semrawut.
Setiap kali sahabatku bertanya, "Ta aku ada harapan nggak sih mencintaimu?"
Jawabku "Nggak"
Tapi setiap kali sahabatku menanyakan lagi, "Lalu aku harus gimana soal impianku? Karena sejujurnya bisa bersamamu adalah impianku"
Jawabku "Ya kamu sudah tahu resikonya, sekarang tergantung dirimu. Kalau kamu mau mengejar mimpimu, aku akan mendukungmu. Kejarlah mimpimu, tangkaplah mimpimu, tapi sejujurnya aku nggak bisa mencintai kamu"
Hubungan yang beribet.
Belum ditambah hal-hal lain yang bikin tambah semrawut.
Tapi kemarin aku bilang ke sahabatku: "Kamu hebat ya, berani menaiki kapal yang pasti akan tenggelam"
Dia nggak komentar.
Sebenarnya aku sadar kapal yang kunaiki juga hampir pasti tenggelam. Tapi aku tau kalo aku nggak naik kapal itu, pulau kecil tempat aku berpijak pun pasti tenggelam. Yang penting naik dulu, seberapa jalan yang bisa ditempuh, tempuh dulu, kalaupun nanti tenggelam toh sudah lebih dekat dengan tujuan.
Aku berkali-kali putus cinta, tapi aku sama sekali nggak bisa mengingat cara menghentikan cinta.
Kemarin beberapa hari aku bingung, aku terluka, aku stress, memikirkan bagaimana cara melupakan dia. Hingga aku dapat jawabannya dari temanku : Nggak ada yang menyuruhmu melupakannya, jalani aja, santai aja, jangan tutup hatimu dan jangan matikan hatimu. Kalau kamu berusaha melupakannya, kamu mematikan hatimu, biarkan saja apa adanya. jangan sakiti hatimu sendiri.
Dan sekarang aku biarkan saja semua apa adanya. Toh sampai akhir komitmenku masih panjang. Jalani saja dulu dan tetap berbahagia. Karena bagaimanapun rumitnya aku ini mencintai dan dicintai.

Semua Jadi Kacau

Tadi pagi, saat renungan pagi bersama saudara-saudara seiman di PKS tercinta, aku dibuat tersadar oleh renungan tertanggal 16 Juli 2008 di buku Renungan Harian terbitan Gloria Graffa.
Judulnya 'Kalap!', ya itulah yang kurasakan sebelum orang tercinta, sampai saat ini masih tercinta, sebelum dia pergi mengejar impiannya. Aku begitu takut kehilangan dirinya dan lupa untuk berpikir jernih. Padahal beberapa waktu ini hubungan kami sudah sangat nyaman, hingga hari itu. Aku sendiri sebenarnya tahu, masih perlu waktu untuk dia lebih nyaman lagi bersamaku, masih perlu waktu untuk aku bisa lebih lagi mengenal dan nyaman dengan dirinya.
Namun aku begitu takut. Takut kehilangan dirinya. Dan sekarang? Aku merasa dia terlalu jauh untuk kutemui. Dan...yah...sedikit banyak aku menyesal untuk yang terjadi di hari Jumat lalu. Aku menyesal untuk tidak mendengar hati kecilku sendiri dan hanya berpikir tentang kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.

My Photo

August 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
          1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31